Rabu, 06 Mei 2015

STRUKTUR ORGANIGRAM KELOMPOK GURAME MERAH PUTIH

STRUKTUR ORGANIGRAM 
KELOMPOK GURAME MERAH PUTIH

PENANGGUNG JAWAB LAPANGAN 
H. SAEPUL ROHMAT, S. Ip

KETUA / PELAKSANA TEKNIS BUDIDAYA

DEDE ABDULOH


KABID
PENGHIJAUAN & PENATAGUNAAN LAHAN
DADANG SUMARNA

Sabtu, 02 Mei 2015

Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Gurame


Ikan gurame hidup di sungai-sungai atau rawa-rawa. Ikan gurame digolongkan ke dalam ikan herbivore karena senang memakan tumbuh-tumbuhan atau daun-daunan di dalam air. Selain dari jenis makanannya, penggolongan ini pun dilihat dari usus ikan gurame yang relatif panjang.
Enzim-enzim yang dikeluarkan melalui kelenjar-kelenjar dalam ususnya mempunyai fungsi sebagai pencerna unsur-unsur makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Namun demikian, tumbuh-tumbuhan bukanlah satu-satunya makanan gurame. Di alam bebas, selain tumbuh-tumbuhan, ternyata gurame juga senang memakan berbagai bahan organic yang mengendap di dasar perairan.
Jenis makanan gurame berkorelasi dengan umurnya. Setiap tahap pertumbuhan, jenis makanannya berbeda. Larva gurame yang baru menetas memakan  cadangan makanan berupa kuning telur yang ada pada tubuhnya. Selama 5-7 hari, kuning telur ini cukup member energi bagi larva. Setelah mulai memakan makanan dari luar, anak gurame memakan tumbuh-tumbuhan kecil berupa fitoplankton.
Pada umur 1 bulan, anak gurame mulai memakan plankton-fitoplankton dan zooplankton atau kelompok tumbuhan dan hewan yang melayang-layang  di dalam air. Karena makanannya terdiri atas hewan dan tumbuhan, maka kandungan protein ikan gurame sangat tinggi. Pada umur 2 bulan ke atas, ikan gurame mulai memakan tumbuh-tumbuhan air atau bahan organic yang mengendap di dasar perairan.
Makanan dan kebiasaan makan gurame berubah sesuai dengan keadaan lingkungan hidupnya. Dalam lingkungan yang berbeda, ikan ini lebih bergantung kepada ketersediaan makanannya. Ikan gurame menjadi pemakan daun-daunan atau tumbuh-tumbuhan jika di lingkungannya tersebut banyak ditemukan atau hanya terdiri atas tumbuh-tumbuhan.
Sebaliknya ikan ini akan menjadi pemakan bahan organik di dasar perairan jika di lingkungannya hanya terdapat jenis makanan tersebut.Kebiasaan gurame yang memakan daun-daunan di dalam air ini kemudian diotiru oleh para petani gurame dengan memberikan pakan berupa daun-daunan, seperti daun papaya, daun singkong, daun ubi jalar, daun talas, dan daun-daunan lainnya.
Berdasarkan penelitian, ternyata gurame yang hanya diberikan pakan berupa daun-daunan memiliki pertumbuhan yang lambat karena memang daun-daunan ini mengandung protein dan nutrisi lain yang rendah.
Sifat gurame yang memakan makanan tergantung pada ketersediaannya di perairan ini sebenarnya dapat diadaptasi guna mempercepat atau memacu pertumbuhan gurame. Dengan memberikan pakan yang bergizi, gurame akan tumbuh lebih cepat disbanding dengan hanya memberikan pakan daun-daunan. Pakan gurame yang minimal mengandung 20% protein diyakini sudah dapat memacu pertumbuhan gurame saat dibudidayakan.
Pada budidaya gurame yang intensif, pemberian pakan yang mengandung protein sekitar 25-30% dengan frekuensi pemberian pakan sampai 3-5 kali sehari dapat memacu pertumbuhan ikan gurame secara optimal. Salah seorang petani yang melakukan budidaya gurame di daerah Cilacap, Jawa tengah, Suyadi,  telah berhasil meramu sendiri pakan buatan dengan kandungan protein yang mencapai 29,67% dan hasil yang didapat sangatlah sukses dan mengagumkan.
Jumlah makanan  yang dibutuhkan ikan gurame sangat bergantung pada umur dan ukurannya. Ikan-ikan gurame kecil memiliki tingkat metabolism yang lebih tinggi disbanding dengan ikan-ikan gurame yang besar. Oleh karena itu, ikan-ikan gurame kecil ini cenderung membutuhkan jumlah makanan yang relatif lebih banyak.
Dari hasil pengamatan, sangat jarang sekali ditemukan ikan-ikan gurame kecil yang memiliki perut dalam keadaan kosong. Hal ini menunjukkan bahwa ikan-ikan gurame kecil ini lebih sering makan.
Suatu pengalaman menunjukkan bahwa antara kualitas makanan dengan tingkat kelangsungan hidup atau sintasan (survival rate) dan pertumbuhan ikan memiliki hubungan yang sangat erat. Ketersediaan makanan yang cukup, baik dalam jumlah maupun kualitas akan mempertinggi kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan gurame.
Sementara benih yang diberi pakan campuran berupa pakan buatan dan moina, sintasannya mencapai 80-91%. Sedang benih yang hanya diberi pakan alami moina sintasannya mencapai 83,1%. Demikian juga dengan pertumbuhannya. Pertumbuhan bobot individu benih gurame yang diberi pakan moina, mencapai 147 mg setelah dipelihara selama 6 minggu. Benih yang diberi pakan buatan pertumbuhannya hanya 111-118 mg, sedangkan benih yang diberi pakan campuran (pakan buatan dan moina) pertumbuhannya 117- 125 mg.
Ini bererti, ikan gurame yang memperoleh makanan berkualitas dan cukup, pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya lebih baik dan lebih tinggi daripada ikan yang diberi pakan lebih sedikit atau kualitasnya rendah.  Kualitas pakan tidak hanya terkait dengan kandungan protein dan kandungan nutrisi lainnya, tetapi juga tingkat kelayakan untuk dikonsumsi oleh ikan sesuai dengan umur dan ukurannya.
Demikianlah pembahasan mengenai makanan dan kebiasaan makan gurame ini. Semoga dengan adanya artikel ini banyak para petani yang melakukan budidaya gureme menjadi bertambah pengetahuannya. Pengetahuan tentang pemberian pakan yang baik secara tidak langsung akan memberikan stimulus yang sangat positif terhadap pemerolehan hasil budidaya gurame yang maksimal.
Langkah yang selanjutnya bisa dilakukan petani gurame ini adalah mulai menerapkan atau mempraktikan pengetahuan ini dalam usaha budidayanya.

Kamis, 23 April 2015

MENJAGA KEASAMAN AIR KOLAM



Menjaga Keasaman Air Kolam Ikan Gurame - Untuk air yang bersifat normal seperti pada kolam ikan Gurame, jika keasamannya berubah secara drastis, ini biasanya dikarenakan terkena air hujan dengan intensitas tinggi atau bisa juga karena banyaknya zat kimia organik dan anorganik yang memang brsifat asam sperti unsur nitrogen, untuk pencegahan dari faktor tersebut rekan budidaya Gurame harus menggunakan manajemen sirkulasi air dengan benar dan teratur. Manajemen  air untuk pencegahan berubahnya keasaman air diantaranya meliputi :
  • Pembuangan air 
  • Penambahan air
  • Penyiphonan dasar kolam
  • Pemberian overflow outlet dan lain sebagainya 
Dari manajemen air di atas kita sudah sedikit mengurangi resiko yang ditimbulkan dari keasaman kolam, dan lebih jauhnya lagi dengan manajemen air maka pembusukan yang ada pada dasar kolam yang disebabkan oleh zat organik bisa kita kurangi atau bahkan bisa dihilangkan.zat tersebut (amonia) bila kita biarkan akan sangat berbahaya bagi ikan Gurame serta juga dapat mengurangi oksigen terlarut pada air, juga akan menyebabkan bau air yang kurang enak.


Beberapa pencegahan lain diantaranya :

1. Penambahan Air yang fresh

Pada saat musim hujan rekan budidaya sangat dianjurkan untuk menambahkan air yang baru (fresh) agar dapat menormalkan air.

2. Memberikan Tanaman Air
Memberikan tanaman air seperti azzola, ecenggondok dan lain sebagainya, ini dimaksudkan sebagai biofilter yang dapat menyerap serta mengurai zat kimia organik maupun anorganik yang terlarut, selain itu tanaman air dapat menyuplai oksigen terlarut kedalam air kolam Gurame, yang perlu diperhatikan dari pemberian tanaman ini adalah tingkat populasinya yang harus kita jaga.


3. Penambahan suplai oksigen buatan
suflai oksigen yang kita dapatkan dari tanaman air tentunya tidak cukup bila menggunakan padat tebar tinggi, untuk itu kita harus memberikan suplai oksigen tamabahan dengan cara yang sangat sederhana yaitu dengan membuat percikan air menggunakan talang air melintang yang di tutup ujungnya dan di beri lubang sepanjang talang air tersebut ukuran kecil dengan jarak tiap lubang sekitar 10 cm, percikan air itulah yang akan menjadi  suplai oksigen terlarut dalam air.

Perlu kita perhitungkan pula pada  budidaya ikan Gurame yaitu suhu, suhu yang selalu berubah-ubah secara ekstrim akan membuat ikan Gurame kita menjadi setres, resiko yang ditimbulakan dari ikan Gurame yang setres yaitu vitalitas serta kekebalan dari ikan Gurame akan menurun, bila ikan Gurame terkena setres ikan akan mengeluarkan lendir dari tubuhnya lebih banyak dari biasanya yang akan mengakibatkan bakteri, virus serta jamur akan dengan sangat mudah menyerang tubuh ikan Gurame serta akan masuk kedalam tubuh Gurame menjadi penyakit.
Itulah sedikit bahasan sementara tentang menjaga keasaman air kolam ikan Gurame semoga artikel ini bermanfaat, untuk pembahasan tentang keasaman air kolam Gurame lebih jelas dan terperincinya nanti akan saya posting pada artikel selanjutnya. trimakasih

POIN PENTING DALAM PEMBENIHAN GURAME



Dibawah ini beberapa poin penting yang harus kita perhatikan bila kita mengabaikan keasaman air kolam, suhu kolam, amonia dan oksigen.






1. Ph Air Kolam Gurame
Bila Ph atau derajat keasaman air tinggi maka yang akan terjadi yaitu :
  • Benih ikan Gurame akan stres serta mengeluarkan lendir berlebihan
  • Amonia pada Ph terlampau tinggi akan menjadi racun serta dapat menyebabkan kematian pada benih ikan sedangkan amonia pada Ph rendah ini tidak akan mematikan ikan
Keterangan :
  • Ph yang normal pada air adalah = 7.
  • Bila Ph diatas 7 adalah BASA.
  • Bila Ph dibawah 7 Adalah ASAM
  • Bakteri atau varasit akan mudah berkembang biak bila kondisi air berada di bawah Ph 7
  • Bakteri atau varasit susah untuk berkembang biak bila kondisi ph berada diatas 7
  • Nilai Ph untuk ikan Gurame yaitu 6-9, ini berarti toleransi pada keadaan BASA menjadi lebih tinggi dari keadaan ASAM.
 2. Suhu Air Kolam Gurame
  • Suhu yang tinggi dapat menurunkan kandungan oksigen terlarut kedalam air, sedangkan benih Gurame sangat membutuhkan oksigen banyak yang akhirnya benih Gurame jadi sering mengambil oksigen ke permukaan, sudah jelas bila benih Gurame sering naik ini berarti menambah gerak dari benih tersebut sehingga ikan akan memproduksi kotoran lebih banyak.

3. Amonia
  • Perlu diketahui amonia berasal dari kotoran benih juga dari sisa pakan yang tidak habis, Amonia yang terlalu tinggi ini dapat menyebabkan ikan stres dan keluarnya lendir terlalu banyak sehingga dapat menyebabkan luka nah luka ini dapat menumbuhkan bakteri atau parasit pada benih, apalagi bila insang yang terkena luka atau bengkak ini akan menyebabkan penyerapan oksigen dari insang berkurangyang akibatnya menurunkan kemampuan darah mengangkut oksigen dan ikan pun akan sulit bernapas bila sudah begitu ikan akan menjadi lemas yang akhirnya TEWAS.

4. Oksigen terlarut dalam air yang kurang , mungkin yang ini ga perlu dijelaskan karena rekan budidaya juga sudah tau.
Mungkin sementara 4 poin di atas dulu yang bisa saya sampaikan kepada rekan budidaya Gurame, bila rekan bisa mengukur dan menerapkan 4 poin di atas maka rekan budidaya sudah sedikit mengurangi resiko benih ikan Gurame terserang penyakit. Ok jangan lupa tinggalkan komentar rekan budidaya bila merasa blog ini bermanfaat karena komentar rekan menjadi nilau plus untuk keberlangsungan blog belajar budidaya ini. Semoga bermanfaat trimakasih.

TANAMAN HERBAL UNTUK PENYAKIT IKAN GURAME

Tanaman obat untuk mencegah penyakit ikan gurami termasuk obat yang relatif lebih aman untuk lingkungan dan efektif dalam mengobati penyakit ikan dapat menggunakan bermacam-macam tanaman obat tradisional, banyak sekali jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba, sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri), di samping itu harga nya pun murah serta mudah di dapatkan.
Dari beberapa percobaan fitofarmaka tanaman terbukti manjur dalam mengatasi penyakit ikan gurami antara lain:
  • Menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri.
  • Ramah terhadap lingkungan, mudah hancur/terurai, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia.
  • mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, serta harganya yang ekonomis dan cukup murah.
Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan gurami adalah bawang putih , dan daun ketapang, informasi dari hasil penelitian lain, bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih, daun jambu biji, jombang dan daun sambiroto, daun sirih sudah terkenal karena berdaya antioksidasi, antiseptik, bakterisida, dan fungisida, tanaman sambiloto bersifat anti bakteri, sedangkan daun jambu biji selain bersifat anti bakteri juga bersifat anti viral.
Beberapa tanaman obat yang sudah ditelitI oleh peneliti indonesia.


1). Meniran

5000 mg/l
Rendam (5 jam)
Anti. Aeromonas hydrophila

2). Kipahit

10.000 mg/l
Rendam (3 jam)
Anti. Mycobacteriosis

3). Daun Semboja

600-700mg/l
Rendam
Anti Aeromonas hydrophila

4). Sambiroto 200-300 mg/l

Rendam (lama)
Anti Aeromonas hydrophila
400 mg/l Rendam (lama) Meringankan KHV
Ekstrak daun kipahit secara invitro pada berbagai dosis diuji efektifitasnya terhadap bakteri Mycobacterium fortuitum, LC50 bakteri Mycobacterium fortuitum dan toksisitas ektrak daun juga diuji terhadap ikan, kegunaan ekstrak daun juga diuji bagi pengobatan ikan Gurami yang telah diinfeksi oleh bakteri Mycobacterium fortuitum pada level 108 cfu/ml.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kipahit pada level konsentrasi 10.000 mg/l dapat menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan perendaman ikan yang sudah terkena bakteri dengan dosis yang sama dengan lama perendaman 3 jam dapat digunakan untuk pengobatan penyakit Mycobacteriosis.
Penggunaan bahan-bahan alami digunakan untuk pengendalian jamur antara lain dapat menggunakan bawang yang putih ,kunyit, daun sirih, daun pepaya dan brotowali, tanaman obat ini dapat berguna untuk membasmi penyakit jamur yang menempel pada tubuh ikan, walaupun dalam membasmi suatu penyakit dengan menggunakan bahan-bahan alami memiliki waktu yang lama, kemudian ke-5 bahan-bahan alami yang dapat menyembuhkan penyakit jamur pada ikan yaitu bawang putih, sumber lain menyampaikan informasi adanya manfaat dari tanaman alami untuk obat seperti pada penjelasan berikut.
Tanaman obat dan manfaatnya
1. Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
2. Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
3. Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
4. Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
5. Daun jombang dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
(Zainal Abidin, 2005)
Daun jombang
Daun jombang
Daun ketapang
Daun ketapang
Sekian artikel tentang Tanaman obat untuk mencegah penyakit ikan gurami, semoga bisa membantu dan bermanfaat buat yang membutuhkan……….

TANAMAN UNTUK MENGENDALIKAN HAMA AIR KOLAM

Hama penggangu sangat merugikan dalam proses budidaya ikan kehadirannya dikolam bisa sebagai predator atau inang penyakit, akibatnya produksi akan menurun. Hama yang kerap dijumpai sebagai predator, antara lain ular air, biawak, dan kadal. Keong emas juga seringkali ditemui dikolam. Binatang itu merupakan inang cacing yang merugikan peternak. Sementara kehadiran kepiting sebenarnya bukan suatu masalah bagi ikan. Namun, lokasi sarang dapat merusak dinding atau tunggul kolam sehingga merugikan peternak.

1. Akar Tuba/jenu (Derris eliptica Roxb.Benth)
a. Kandungan Kimia : akar tuba mengandung alkaloid, saponin, falvonoid, tanin, dan polifenol. Salah satu produksi metabolit sekunder yang dikandung oleh tanaman tuba adalah rotenon (C23H22O6) , kandungan rotenono tertinggi terdapat pada akar­, yaitu 0,3-12% rotenon merupakan racun perut dan kontak tetapi bersifat sistemik.
b. Bagian yang digunakan : seluruh tanaman
c. Aplikasi
Akar tuba dapat sebagai racun serangga, akar ini untuk membunuh predator sebelum pendederan atau pembesaran.

2. Ketepeng (Cassia alata L )
a. Kandungan Kimia : kulit kayu mengandung aloe-emodin, asam krosofanat, resin, krisofanol, dan seng. Sementara asam oleat terkandung dalam biji.
b. Bagian yang digunakan : daun
c. Aplikasi
Untuk membunuh predator dikolam, caranya setelah kolam dikeringkan aliri kolam dengan air hingga mencapai ketinggian 15 cm. Setelah itu ambil daun ketepeng sebanyak 4 kg untuk kolam seluas 100 m2 . Daun ketepeng diremas-remas didalam ember yang berisi air, lalu disaring kemudian hasil saringan tersebut dimasukan ke dalam kolam.

3. Liridiah / Gamal (Glyriceridia sephium)
a. Kandungan Kimia : daun mengandung saponin, flavanoid, dan polifenol
b. Bagian yang digunakan : daun
c. Aplikasi
Untuk membunuh predator dikolam, caranya setelah kolam dikeringkan aliri kolam dengan air hingga mencapai ketinggian 15 cm. Setelah itu ambil daun liridiyah sebanyak 6 kg untuk kolam seluas 100 m2 . daun ketepeng diremas-remas didalam ember yang berisi air, lalu disaring kemudian hasil saringan tersebut dimasukan ke dalam kolam.

4. Nanas (Ananas comosus Merr)
a. Kandungan Kimia : daun, buah, akar mengandung saponin,flavanoid, dan polifenol.
b. Bagian yang digunakan : buah
c. Aplikasi
Nanas dapat memberantas kepiting. Hewan ini sering merusak tanggul kolam. Caranya nanas dicacah sampai lembut, lalu cacahan itu diaduk aduk ketanah dengan radius 0,5 m disekitar lubang kepiting, dengan cara ini kepiting yang bersembunyi dalam tanah akan mati. Dengan menanam nanas ditanggul kolam dapat mencegah kepiting datang.

5. Teh (Thea sinensis)
a. Kandungan Kimia : biji teh mengandung saponin 10-13% sehingga penggunaannya sebagai racun disarankan sebanyak 15-18 kg/ha. Tepung biji teh mempunyai kandungan saponin lebih rendah sehingga dosis harus lebih besar sekitar 150-180 kg/ha
b. Bagian yang digunakan : biji
c. Aplikasi
Selain digunakan sebagai pemupukan juga dapat dilakukan sebagai racun membunuh predator atau pesaing makanan dikolam. Sebelum dicampurkan biji teh dikeringkan atau digiling halus. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal bungkil teh direndam selama semalam,airnya tak perlu disaring karena sisa bijinya dapat sebagai pupuk.

6. Tefrosia (Tefhrosia vogelii Hook)
a. Kandungan Kimia : komponen aktif adalah tephorosin dan deguelin yang merupakan senyawa isomer dan rotenon.
b. Bagian yang digunakan : daun
c. Aplikasi
Sangat beracun terhadap keong mas, caranya, daun dihaluskan lalu dicampur dengan air dan ditambah sedikit ditergen. Pemakaian konsentrasi 1% dapat mematikan keong mas. Selain obat hama daunnya juga berguna sebagai pupuk hijau.

7. Sembung (Blumea balsamifera D.C)
a. Kandungan Kimia : daun sembung mengandung boneol, sineol, limonen, dan dimetil eter florosetofenon.
b. Bagian yang digunakan : daun
c. Aplikasi
Daun dihaluskan lalu dicampur dengan air. Pada konsentrasi 1%, larutan daun dalam air ditambah 0,1% deterjen cair mengakibatkan 50% kematian populasi keong.

8. Tembakau (Nicotiana tabcum L)
a. Kandungan Kimia : tembakau mengandung bahan beracun yang disebut nikotin. Konsentrasi tertinggi terdapat pada ranting dan tulang daun. Kandungan lain adalah saponin, alkaloid, flavanoid, dan polifenol.
b. Bagian yang digunakan : daun dan batang
c. Aplikasi
Umumnya yang digunakan adalah daun tetapi agar lebih praktis peternak biasanya menyertakan batangnya. Tembakau efektif untuk memberantas hama, seperti cacingpolichaeta, atau trisipan.
Daun digunakan langsung atau dihaluskan terlebih dahulu, cara lain dikeringkan terlebih alu di haluskan menjadi bentuk tepung.
Dosis yang dianjurkan 300-400 kg/ha luas kolam.air dikurangi ketinggian 5-10 cm. Selanjutnya serbuk ditebar secara merata keseluruh permukaan kolam.

TANAMAN UNTUK MENGOBATI PENYAKIT IKAN

Beberapa tanaman disekitar kita ternyata dapat dipakai sebagai alternatif pengobatan, meskipun hanya jenis tertentu, tetapi pemakaian tanaman sebagai media mengobati ikan merupakan kemajuan di bidang budidaya ikan. Apalagi tren untuk kembali kealam turut digalakkan untuk menekan dampak buruk penggunaan obat kimia. Adapun beberapa jenis tanaman yang sudah terbukti mengobati penyakit adalah sebagai berikut.
 
1. Kamboja (Plumeria acuminata AIT)
a. Kandungan Kimia : akar dan daun kamboja mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol. Daun mengandung alkaloid
b. Bagian yang digunakan : getah daun dan batang
c. Aplikasi
Getah daun dan batang dapat mengobati koreng ikan akibat serangan jamur Saprolegnia sp. Pengobatan dilakukan sengan cara daun kamboja dipetik pagi hari, saat pagi getah masih banyak dibanding siang dan sore hari. Dosis untuk kolam dengan luas 100 m2 membutuhkan daun sebanyak 10 kg, batang dicacah kecil-kecil lalum dimasukan ke dalam kolam hingga merata, perlakuan ini diulang setiap hari selama tiga hari.

2. Pulai (Astonia scholaris)
a. Kandungan Kimia : kandungan kimia dari kulit batang antara lain alkoloid ekitamina, ekitenina, alsonina, akiserina, ekitina, aktamidina, dan ekiterina. Kandungan kimia yang ada kaitannya dengan pengobatan belum jelas diketahui.
b. Bagian yang digunakan : daun dan kulit batang
c. Aplikasi
Getah daun dan batang dapat mengobati koreng ikan akibat serangan jamur Saprolegnia sp, caranya petik daun saat getah masih banyak. Untuk kolam dengan ukuran 100 m2 dibutuhkan daun sebanyak 10 kg. batang dicacah kecil-kecil lalum dimasukan ke dalam kolam hingga merata, perlakuan ini diulang setiap hari selama tiga hari

3. Randa Nunut (Drymaria cordata)
a. Kandungan Kimia : -
b. Aplikasi
Daun ini digunakan sebagai obat anti jamur, caranya ambil 5-10 lembar untuk 30 liter air, remas daun tersebut hingga lumat lalu peras. Setelah ampas daun diangkat masukan ikan sakit selama 60 menit selama perlakuan ikan sakit dikarantina agar tidak menular pada ikan lain